CALIFORNIA - Rupanya, game tiga dimensi bukan hanya gagal memuaskan konsumen, tapi juga pihak pengembang dan penerbit.
Demikian setidaknya pendapat CEO Electronic Arts, salah satu pengembang
game terbesar dunia, John Riccitello, dalam pertemuan dengan para
pemegang saham baru-baru ini.
Menurutnya, game 3D bukan saja membuat konsumen sakit kepala karena
harus menggunakan kacamata khusus dan mengalami kelelahan pada mata.
Namun pengembang juga harus bekerja keras memenuhi standar khusus game
tiga dimensi. Selain itu, pihak penerbit pun harus berpikir kreatif
untuk bisa memasarkannya dengan lebih istimewa dibandingkan game biasa.
Padahal, penjualan game hingga saat ini belum menunjukkan hasil
memuaskan. Terbukti, raksasa game Jepang Nintendo bahkan harus memangkas
harga konsol genggam 3DS hingga USD100 lebih akibat penjualan yang
tidak memenuhi ekspektasi.
"Kami belum melihat perkembangan yang bagus dalam hal game 3D, begitu
juga dengan TV 3D di rumah-rumah," cetus Riccitello sebagaimana dikuti
TG Daily, Sabtu (30/7/2011).
"Di sini kami tidak berusaha mengarahkan pasar, melainkan bereaksi terhadap apa yang diinginkan konsumen," lanjutnya.
Menurut Riccitello, apa yang terjadi pada 3DS bisa menjadi patokan.
Kendati 3DS tidak membutuhkan perangkat TV, kabel maupun kacamata
khusus, konsumen toh tetap enggan mengeluarkan USD250 untuk sebuah 3DS.
Alih-alih mendorong 3D sebagai format masa depan game, Riccitello
berharap EA melakukan pendekatan pasar lewat game mobile, Facebook serta
pasar online yang biasa.
"Kami melihat hasil yang tinggi dari pasar-pasar ini, di mana hal
sebaliknya terjadi pada pasar yang fokus kepada 3D. Jadi kami
mengalokasikan sumber daya kami ke inovasi-inovasi baru," tuntas
Riccitello.
Pernyataan Riccitello ini sepaham dengan survei yang dilakukan firma
riset NDP. Mereka mengklaim bahwa konsumen Amerika Serikat masih ragu
membeli produk-produk 3D, kendati sangat menyadari kehadirannya.
Sumber:
Okezo